Triyanto Triwikromo – Pertempuran Rahasia
4 July 2010 – 12:00 am | No Comment

Kemenangan Pandawa tidak menuntaskan semua hal. Meski legenda Mahabharata ditamatkan ribuan tahun lampau, pertempuran tak jua meredup. Bharatayuddha tak lagi berkecamuk di Kurukshetra, melainkan di tempat-tempat yang lebih gelap, dimana pembunuhan dan kematian terjadi tanpa satu saksi pun. Labyrinth itu adalah pikiran manusia.

Read the full story »
Celoteh-celoteh Oom Ale

It’s about life, love and laugh of Oom Ale and family + friends.

Buku

Sometime I only read the back-cover or TOC, and that should be okay.

Musik

Some of the musics I listen. Please do not ask for free mp3.

Cak Koplak

Why don’t we turn bad news to a hahaha..? And, no hurt feeling please..?!

Celoteh-celoteh Toelangan

A small thought from small place, Toelangan.

Celoteh-celoteh Toelangan »

Mie Instan, Telor, Ayam
10 July 2010 – 12:00 am | No Comment

Setelah menanyakan tujuan saya, yang kemudian saya jawab “Mall”, supir taxi yang membawa saya dari sebuah hotel di bilangan Slipi, Jakarta, membuka percakapan, “Kenapa mata bapak minus?” Saya sedikit heran dengan pertanyaan ini. Saya lirik supir taxi itu tidak sedang mengenakan kacamata. Saya berusaha berpikir positif, mungkin dia baru saja didiagnosa pegawai toko optik dan disarankan menggunakan kacamata. Mungkin dia perlu second opinion untuk meyakinkan dirinya memang betul-betul perlu kacamata.

Saya punya jawaban teoritis. Tapi karena saya sedang berhemat bicara, saya jawab saja karena terlalu lama bekerja di depan komputer dan suka baca sambil tiduran. Jawaban standar memang. Saya sendiri tidak tahu apa ada hubungan antara terlalu lama menyetir dengan mata minus. Saya berharap ini akan memuaskan dia. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dari kaca spion dalam, supir taxi menatap saya cukup tajam, “Bukan..!!” kata supir taxi itu keras juga. “Mata minus bukan karena terlalu banyak nonton tv, main komputer atau baca sambil tiduran. Itu khan kata orang dulu. Mata minus karena bapak terlalu banyak makan mie instan, telor dan ayam.”

Waow… jawaban apa pula ini..?! Belum sempat saya mencerna, supir taxi itu sudah menyerbu. “Mie instan, telor dan daging ayam ternak tidak baik untuk kesehatan pak. Menyebabkan banyak penyakit. Seperti sakit jantung, gagal ginjal, kanker, darah tinggi, stroke dan macam-macam. Telor dan daging ayam kampung boleh dimakan. Tapi telor dan daging ayam boiler… bahaya… bahaya!”

Saya mulai gerah dengan pembicaraan seperti ini. Menyudutkan mata minus saya lalu dengan sok tahunya mengatakan saya terlalu banyak makan mie instan, telor dan ayam sungguh tidak sopan. Selain itu, nada bicaranya terlalu keras. Tatapan matanya dari kaca spion pun menganggu kenyamanan saya. Sesaat saya ingin membalas dengan suara keras pula bahwa jawabannya konyol dan tolol. Tapi tiba-tiba saya teringat ajaran semacam “ilmu ginkang” dari seorang suhu meditasi Vipassana. Saya menyadari kemarahan saya. Lalu saya coba tersenyum. Kecut tentunya. “Ooo gitu ya pak?”

Sahutan saya membuka front lebih lebar lagi. Supir taxi itu bertambah semangat, “Saya sedih pak. Sedih sekali. Bangsa kita semakin hari semakin bodoh dan penyakitan. Coba lihat, rumah sakit dimana-mana penuh. Padahal jaman dulu, rumah sakit kosong karena nenek moyang kita selalu sehat wal afiat. Bapak tahu? Sejak tahun 70-an bangsa kita mulai mengenal ayam petelur dan ayam boiler dari bangsa xxx (Maaf.. saya mensensor nama bangsa asing itu demi keharmonisan hubungan bilateral kedua negara). Sejak saat itu kita jadi bangsa yang sakit-sakitan. Dulu badan nenek moyang kita kuat-kuat. Sekarang, kena angin sedikit saja kita flu. Persis ayam boiler, gampang mati kalau kena angin. Dulu ingatan nenek moyang kita juga kuat, seperti ayam kampung yang selalu ingat kandangnya. Orang sekarang gampang lupa. Itu karena kita terlalu banyak makan telur dan ayam boiler. Bapak tahu? Telur dan daging ayam boiler itu penuh suntikan obat. Itu semua sumber penyakit. Bangsa kita terlalu banyak makan penyakit. Itu yang membuat saya sedih.”

Saya tidak tahu mau bicara apa. Saya masih sibuk dengan “jurus” meditasi mengenal diri untuk menjaga kuda-kuda emosi saya. Saya biarkan saja dia berjaya dengan ocehannya. Sambil matanya terus menatap melalui kaca spion, “Ayam boiler bulunya putih pak. Orang yang terlalu banyak makan daging ayam boiler rambutnya gampang ubanan.” Pyuuh..!! Saya semakin kecut. Uban di kepala saya jauh lebih lebat meski umur saya pasti lebih muda darinya. Aah, sialan juga supir taxi ini. Di remang-remang petang itu, matanya seolah bersinar menang. 2 : 0..!

“Kita ini dibodohi bangsa luar pak,” pidatonya mulai memanas. “Mie instan, telor, dan ayam boiler itu produk bangsa asing. Mereka tahu makanan ini tidak baik buat kesehatan. Tapi mereka cekoki bangsa kita agar kita penyakitan terus. Saya sedih melihat bangsa ini pak. Sedih sekali. Saya pernah bicara dengan dokter, profesor, insinyur yang kebetulan naik taxi saya. Mereka membenarkan omongan saya. Mie instan, telor dan ayam boiler banyak mengandung zat-zat kimia yang bahaya bagi tubuh. Mereka banyak makan mie instan, telor dan ayam. Mereka sendiri mengaku kena stroke, darah tinggi, jantung dan ginjal. Setelah mendengar omongan saya, mereka sudah tidak mau lagi makan mie instan, telor dan ayam boiler. Pernah ada mahasiswa yang menyarankan saya membuat selebaran lalu ditempel dimana-mana. Saya tidak mau. Saya lebih suka berbicara pada penumpang taxi saya.”

Dalam hati saya punya banyak argumen. Tapi emosi dan pikiran saya sudah mulai tenang. Biarlah supir taxi ini menemukan kegairahanya. “Memangnya bapak mulai kapan tidak makan mie instan, telor, dan ayam?” tanya saya.

“Mulai tahun 97..!!” jawabnya mantab. “Sejak itu badan saya selalu sehat pak. Hampir tidak pernah sakit. Kalau sakit cuma ringan-ringan saja. Tidak sampai serius. Saya juga kuat bekerja. Berjam-jam nyetir taxi tidak masalah buat saya. Teman-teman sesama supir taxi sering mengira saya suka minum minuman energi. Saya tidak pernah minum minuman macam itu. Itu juga bahaya.” Badan supir taxi ini memang terlihat kuat. Tidak gemuk. Tidak kurus. Sedang dan atos.

“Oh ya..!” lanjut supir taxi itu, seolah ada yang ketinggalan. “Saya terlambat kawin pak. Saya kawin umur 30-an. Lebih dari delapan tahun saya tidak punya anak. Lalu saya berhenti makan mie instan, telor, dan ayam. Eeeh, setahun kemudian saya punya anak.” Ternyata manfaat berpantang makan mie instan, telor dan ayam banyak juga. “Coba ikuti nasehat saya ini pak,” kali ini supir taxi ini mulai berani menasehati saya. “Omongan saya memang tidak ada di buku-buku kedokteran. Tapi saya yakin benar. Mulai sekarang jangan makan mie instan, telor, dan ayam boiler. Bahaya!”

Taxi mulai memasuki pelataran Mall. Saya mengintip tag pengenal taxi. Cuaca agak gelap. Petang itu mendung. Saya tidak bisa membaca cukup jelas nama supir taxi yang tertulis di tag. Kalau tidak salah namanya, Deni Safrin. Entah dia orang mana. Seolah berburu dengan waktu, dia meneruskan bicaranya sebelum taxi benar-benar berhenti. “Bapak tahu, bangsa kita mudah marah. Senggolan di jalan sedikit saja sudah mau berantem. Demo dimana-mana selalu rusuh. Bapak tahu apa sebabnya?” Saya menduga jawabannya pasti, “Mie instan, telor, ayam.”

Ternyata tidak. “Karena hati kita tidak sabar pak. Inginnya semua serba cepat. Itu karena makanan kita dibuat serba cepat. Mie instan. Telor ayam ternak. Daging ayam boiler. Semuanya hasil produksi serba cepat. Makanan kita tidak baik. Itu yang membuat hati kita juga tidak baik. Mudah emosi. Kurang tabah. Kurang sabar.”

Saya tergeleng-geleng lalu mengangguk-angguk sendiri. Belum pernah saya diceramahi oleh supir taxi seajaib ini. Saya tidak tahu apakah dia benar atau salah. Tapi saya cukup percaya, kejadian tadi tidak serta-merta kebetulan. Jangan-jangan ada sebab rahasia yang mempertemukan saya dengan supir taxi itu. Yang jelas selama dua puluh menit perjalanan tadi saya berkutat keras dengan “ilmu ginkang”. Itu bukan hal yang mudah. Saya juga tidak tahu apakah saya lulus dalam praktek meditasi mengenal diri dalam taxi. Mungkin ini tidak terlalu penting. Tapi saya tahu saya tidak membantah ucapannya. Saya tidak menertawakan dia. Saya tidak mengejek teorinya. Malah berterima kasih dan memberi tambahan tips ongkos taxi. ***

Triyanto Triwikromo – Pertempuran Rahasia
4 July 2010 – 12:00 am | No Comment
Triyanto Triwikromo – Pertempuran Rahasia

Kemenangan Pandawa tidak menuntaskan semua hal. Meski legenda Mahabharata ditamatkan ribuan tahun lampau, pertempuran tak jua meredup. Bharatayuddha tak lagi berkecamuk di Kurukshetra, melainkan di tempat-tempat yang lebih gelap, dimana pembunuhan dan kematian terjadi tanpa satu saksi pun. Labyrinth itu adalah pikiran manusia.

Gorillaz – Plastic Beach
26 June 2010 – 12:00 am | No Comment
Gorillaz – Plastic Beach

Meski masih bersembunyi di balik karakter-karakter kartun coretan Jamie Hewlett: 2D, Murdoc dan Noodle yang kini menjelma cyborg, namun pecinta Gorillaz tahu apa yang dicari: musik..!! Plastic Beach pun bukan lagi proyek sampingan Mr. Albarn di luar Blur. Dengan menjadi satu-satunya produser, album ini adalah signature yang sangat personal dari Damon.

Who’s Got The Monkey?
16 June 2010 – 12:00 am | No Comment
Who’s Got The Monkey?

Atasan punya cara untuk mendelegasikan tugas ke bawahan. Tapi, bawahan yang lihai punya trik melempar kembali tugas-tugas itu ke atasan. Trik “who’s got the monkey’ adalah pembunuh yang efektif. Ini bukan soal apakah kita sudah melakukan empowering bawahan. Ini adalah permainan politik menghindari diri dari masalah besar.

K. Usman – Pengantin Luka
14 June 2010 – 12:00 am | No Comment
K. Usman – Pengantin Luka

15 cerpen dalam buku ini cukup menghibur. K. Usman tahu pembacanya tak ingin berlarut-larut dalam pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu. Ia menutup cerita-ceritanya dengan argumen, “Percayalah semuanya akan baik-baik saja. Manusia punya kekuatan untuk menerima, mengatasi bahkan melupakan persoalannya.”

Being Employee Is Red Ocean Strategy
10 June 2010 – 12:00 am | No Comment
Being Employee Is Red Ocean Strategy

Tahukah anda bahwa being employee is red ocean strategy? Menjadi karyawan berarti kita masuk dalam perangkap strategi “Red Ocean”. “Medan kompetisi paling padat, paling tidak sehat dan paling ganas ada di tempat kerja,” kata Pak Santo. Beliyaw ini teman makan siang Oom Ale di kantor.

Andre Harihandoyo And Sonic People – Good For The Soul
7 June 2010 – 12:00 am | 3 Comments
Andre Harihandoyo And Sonic People – Good For The Soul

Andre Harihandoyo And Sonic People menunaikan ekspektasi titel albumnya: Good For The Soul. Materi lagu-lagu sederhana, cenderung minimalis, dimainkan dengan good manner dan sound yang mature, smooth as silk. Segera saja meredakan mood. Music is healing. Lalu tiba-tiba kita merasa akrab dengan orang-orang.

Linda Christanty – Rahasia Selma
4 June 2010 – 12:00 am | One Comment
Linda Christanty – Rahasia Selma

Bagi Linda hidup tidak dibangun di atas perayaan-perayaan. Hidup dipahat sangat dalam oleh berbagai kejadian yang seringkali luput dari perkiraan: trauma, penistaan, pengabaian, kepedihan bahkan ejekan-ejekan sambil lalu. Saya berharap “Rahasia Selma” mendapat penghargaan buku kumpulan cerpen terbaik tahun ini.

In The Meeting Room
3 June 2010 – 12:00 am | No Comment
In The Meeting Room

Apa yang terjadi dalam ruang meeting? Benarkah ruang meeting adalah simbol eksistensi seseorang dalam manajemen? Konon karyawan yang tidak pernah terlibat dalam meeting-meeting perusahaan dianggap tidak penting. Dia boleh dibilang tidak eksis. Tak heran jika muncul teori terkenal: aku meeting, maka aku ada.

Evi Idawati – Mencintaimu
30 May 2010 – 12:00 am | No Comment
Evi Idawati – Mencintaimu

Sembilan Mantra Rindu Evi adalah perjalanan yang jauh dari usai. Perjalanan itu berliku, rumit dan melelahkan. Di beberapa tikungan perjalanan cinta sangatlah menakutkan. Itu membuat Evi harus maju mundur menemukan kegairahannya untuk tetap bercinta. Diperlukan mantra-mantra lain sebelum Evi menemukan apa yang dirindukannya.

Guns N’ Roses – Chinese Democracy
28 May 2010 – 12:00 am | One Comment
Guns N’ Roses – Chinese Democracy

Belasan tahun, belasan musisi, puluhan tenisi yang harus bergantian dalam barisan pendukung album ini tidak perlu dilihat sebagai kesia-siaan, melainkan sebuah pergulatan yang sangat dahsyat dalam proses penciptaan. Penantian itu sangat pantas. Album ini layak diapresiasi sebagai album musik yang monumental.