Andre Harihandoyo And Sonic People – Good For The Soul

Artis: Andre Harihandoyo And Sonic People
Album: Good For The Soul
Jumlah Lagu: 11
Tahun Rilis: 2009
Andre Harihandoyo And Sonic People menunaikan ekspektasi titel albumnya: Good For The Soul. Materi lagu-lagu sederhana, cenderung minimalis, dimainkan dengan good manner dan sound yang mature, smooth as silk. Menghangatkan pendengaran. Segera saja meredakan mood. Music is healing. Lalu tiba-tiba kita merasa akrab dengan orang-orang. That’s what we mean with good for the soul.
Tapi sebenarnya Andre Andre Harihandoyo And Sonic People tidak sedang memainkan musik untuk OST happy ending movie. Sebaliknya, musik mereka adalah tentang perpisahan, kesendirian, kerinduan, cinta yang tertelantarkan. Semacam menyiksa diri sendiri dengan berpekat-pekat dalam perasaan. That’s not good for the soul indeed. Anyway, setidaknya lirik-lirik album ini bisa jadi teman berbagi mereka yang alone, missing someone, atau brokenhearted.
Jikalau kita tidak mempunyai masalah yang sama dengan lirik-lirik Good For The Soul, maka album ini mood-mate yang baik, entah itu, di perjalanan pulang kantor, self overtime di apartemen, relaxing weekend, gathering with old friends, light dinner with you lover, you name it. Itu hanya terjadi karena musik Andre Andre Harihandoyo And Sonic People is really.. really.. good.
The Breakup. Lampu-lampu kota. Jalanan ibukota berburu pulang. Speedometer tersendat-sendat. Petang sudah jauh lewat. Namun di ujung jalan sana, kekasih menunggu untuk sebuah makan malam ringan. (I like the attitude of the clarinet.)
Justify. Trotoar dan siraman lampu jalan. Melewati bangku kosong. Beberapa pedagang berkemas. Tak ada kata larut untuk langkah-langkah bersama kekasih.
I’ll Wait For You. Cafe di ujung jalan. Di dalamnya sejuk tertahan. Panggung sederhana. Piano. Upright bass. Drum. Kursi-kursi. Beberapa teman. Dan tentu saja, lagu yang cantik itu. (My favorite song. I love the piano. Drums, trumpet, bass, vocal, just perfect silky blend)
Everything. Percakapan-percakapan. Melupakan hari yang complicated. Tenggelam dalam gurauan. Pelukan hangat kekasih dan teman-teman. Pemain band di panggung itu. Salute. Mereka pun sahabat-sahabat kami. (What a beautifull song. Nice progreesion. Started by warm acoustic guitar, clarinet and ended with happy chorus.)
Room For Everybody. Jam session. Bertukar ketukan. Melontarkan tatapan. Bergantian berceloteh satu dua tiga nada. Malam mungkin sudah lewat. Di luar sana, embun mungkin sudah melayang-layang. Tapi kegembiraan perlu sedikit waktu lagi.
I Wish. Salam dan lambaian tangan. What a night. Car stereo lembut melantunkan sisa-sisa blues. Ibukota sepi sekali di dini hari. Kekasih membisikkan sesuatu. Kami melaju mengganggu aspal yang tak pernah tidur. (Nice blues! I like the drums and off course the guitar.)
The Flood Song. Dari ujung sini. Di bawah sana ibukota tampak masih terlelap. Tapi jauh di atas, sebaris merah subuh mengawang. Melepas pakaian hangat. Biarkan sejuk membangunkan kami.
Mr. Time. Teringat sesuatu. Dalam suatu kegelapan pagi. Detak jam dinding. Koran yang berserak. Secangkir teh sisa semalam. Puisi Sapardi. Janji-janji. Lalu kini. Di kegelapan pagi juga. Jauh di atas ibukota. Bersama kerikil yang masih basah. Kami berjanji-janji.
Uhh.. Ahh… Angin pagi. Kaca-kaca kendaraan terbuka lebar. Kekasih memejamkan mata. Anak rambutnya bergerak-gerak. (My another favorite track. Nomor instrumental yang sederhana dan mengasyikkan. Drum yang biasanya bermain santun, kini bertingkah atraktif. Chorus uhh.. ahh.. sedap.)
Good (For My Soul). Sebuah kamar yang hangat. Menyambut lelap. Menahan lelah di depan pintu. Siraman air dingin. Handuk hangat. Pakaian rumah. Dan tentu saja, sofa yang menggelamkan kami.
Pillow St. Don’t wake up in the morning if you’re out of tune // don’t wake up in the morning if you know it’s June.
Lupakan apa yang saya celotehkan di tiap lagu. Tapi kali ini saya bersungguh-sungguh. Ketika saya mendengar album ini sambil memejamkan mata, saya merasa menikmati sebuah album karya musisi internasional. Sejenak kemudian, saya teringat dan sempat menyamakan album ini dengan Continuum-nya John Mayer yang hebat itu. Sama-sama membawa sound folk-blues yang ringan namun berkelas. Nomor-nomor yang simple namun tak membosankan. Kelebihan Good For The Soul, album ini sungguh mengobati.
Musical attitude personelnya, Andre Harihandoyo: vocal, gitar, Andreas Arianto: piano, keyboard, clarinet, Brian Jonathan: bass, Tobias Ringga: drums, trumpet, patut diacungi jempol. Mereka bermain pada porsi yang tepat. Bak penyembuh sejati. Tidak ada kegenitan. Tidak ada pameran skill alat. Semua ego ditinggalkan di luar studio. Andre bernyanyi lembut tanpa menjadi mendayu-dayu. Clarinet dan trumpet dimainkan pada saat-saat yang memang dibutuhkan. Terkesan minimalis, namun semuanya almost perfect. Itu yang membuat nomor-nomor di album ini dapat didengar berurutan tanpa menimbulkan kebosanan.
Kini saya mengarahkan navigasi saya pada album-album berikut Andre Harihandoyo And Sonic People.






saya suka ulasannya mas, setuju dengan celotehannya di setiap lagu
keep up the good work!
Wah, baru baca yang ini. Terima kasih banyak atas ulasannya, Bung Leo. Terima kasih telah turut menikmati musik kami
oh yes, saya juga sangat (apa ya namanya) menikmati album yang sangat nyaman ditelinga ini
simple tapi musiknya kaya banget.
Dan yes lagi untuk deskripsi continuum-nya John Mayer : album yang hebat.
Setuju sama review ini. Bener-bener album yang menyejukkan hati. Sudah denger EP Mereka Room Session. The Breakup versi blues-nya keren (album ini lebih nge-blues daripada Good For The Soul yang rada jazzy/folk