Being Employee Is Red Ocean Strategy
Tahukah anda bahwa being employee is red ocean strategy? Menjadi karyawan berarti kita masuk dalam perangkap strategi “Red Ocean”. Bagi yang bertanya-tanya apa itu “Red Ocean Strategy” ada baiknya membaca dulu buku “Blue Ocean Strategy” karangan W. Chan Kim dan Renee Mauborgne.
Dalam satu kalimat, “Blue Ocean Strategy” adalah menciptakan pasar tanpa pesaing yang akan membuat kompetisi tak lagi relevan. Maksudnya begini: ketimbang kita masuk dalam pasar yang sudah begitu padat pesaing, lebih baik kita menciptakan produk inovatif yang belum ada kompetitornya sama sekali. Sebab kita satu-satunya pemain, kita bisa mengeruk keuntungan sebesar-sebesarnya. Laporan keuangan pun berwarna biru. Sebiru samudera biru. Asyik..! Sebaliknya “Red Ocean Strategy” adalah strategi terjun di pasar yang sangat padat, yang bisa membuat bisnis tenggelam dalam lautan darah.
“Medan kompetisi paling padat, paling tidak sehat dan paling ganas ada di tempat kerja,” kata Pak Santo. Beliyaw ini teman makan siang Oom Ale di kantor. Ide-idenya seringkali aneh bin ajaib walaupun ada benarnya juga. Termasuk ide yang satu ini. Katanya lagi, “Pasar tenaga adalah pasar yang paling padat di dunia. Setiap tahun ada ratusan ribu lulusan SMA, diploma dan sarjana baru yang berbondong-bondong menyerbu pasar tenaga kerja. Padahal di sana sudah menumpuk lulusan dari tahun-tahun sebelumnya yang masih luntang-lantung mencari pekerjaan. Itu belum termasuk para pegawai tiba-tiba menganggur lantaran kontrak kerjanya habis, perusahaannya bangkrut atau dipecat. Sialnya, mereka yang sudah enak-enak bekerja pun masih suka coba-coba melamar pekerjaan di tempat lain. Ini membuat pasar tenaga kerja terasa sumpek, gerah.”
Hawa siang itu memang gerah. Pak Santo pun menegak air minumnya secepat beliyaw melanjutkan celotehnya. “Mereka yang beruntung mendapatkan pekerjaan belum tentu bisa hidup tenang. Justru persaingan di tempat kerja jauh lebih kejam daripada yang dibayangkan. Lengah sedikit saja, salah-salah pekerjaan kita direbut orang. Para pegawai seperti kita ini harus berjuang sekuat tenaga mempertahankan kedudukan, sambil terus berancang-ancang mencuri kesempatan untuk naik pangkat. Ini namanya politik kantor. Namanya politik pastilah kotor. Sikut kanan. Sikut kiri. Injak bawahan. Jilat atasan. Bohongi kolega. Yang paling cerdik akan mendapat karir yang gemilang. Sedangkan mereka yang nggak pintar berpolitik nggak akan dapat apa-apa. Malah, banyak juga yang dipecat gara-gara kalah bersaing”
Oom Ale mengangguk-angguk. Kalau dipikir-pikir, pidato Pak Santo tadi banyak betulnya. “Menjadi pegawai itu lebih banyak nelangsanya ketimbang happynya,” kata Pak Santo belum puas membombardir Oom Ale. “Kalau nggak percaya, coba lihat muka-muka para pegawai di perusahaan tempat kita bekerja. Pasti lebih banyak yang ditekuk, stres dan tertekan ketimbang yang bergembira ria. Selalu saja ada masalah. Dan, masalah yang paling sulit dipecahkan bukanlah masalah teknis, melainkan masalah hubungan antar karyawan. Pada dasarnya masalah hubungan antar karyawan bukan sekedar masalah beda persepsi, tapi karena persaingan. Persainganlah yang membuat hidup sebagai karyawan terasa kejam, penuh derita dan berdarah-darah. Kesimpulannya, menjadi karyawan adalah red ocean!” Pak Santo menghentikan pidatonya dengan senyum kemenangan yang membuat Oom Ale tiba-tiba menjadi orang terkonyol sedunia.
“Lantas kita harus bagaimana dong?”
“Hidup memang penuh perjuangan, dan perjuangan paling berat adalah di tempat kerja… sebagai pegawai!” kali ini Pak Santo ikutan memelas.
Makan siang kali ini terasa sangat menyedihkan.
***
“Ingat bapak-bapak ibu-ibu sekalian… we are not employees!” Yang berbicara ini adalah Pak Ton di forum training “how to be a professional manager”.
“Kalau kita ini bukan pegawai, lantas apa dong?” tanya peserta training.
“We are professionals..!” mantab sekali ucapan Pak Ton ini. Manajer personalia kebanggaan kami ini memang selalu siap dengan kalimat-kalimat penguat iman. “Jangan mau jadi employee, tapi jadilah seorang profesional. Tahukah bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, apa beda employee dan profesional?”
Serentak kami menggeleng-gelengkan kepala ke kanan dan ke kiri.
Kata Pak Ton, “Employee bekerja sesuai perintah. Sedangkan profesional bekerja untuk kehormatan profesinya. Employee mencari pekerjaan, job seeker. Sebaliknya, profesional dikejar-kejar oleh pekerjaan. Hobby employee adalah membaca iklan lowongan kerja. Sedangkan profesional menunggu telpon dari head hunter. Di atas employee ada majikan. Di atas profesional ada kode etik. Employee takut dipecat. Profesional sama sekali tidak takut kehilangan pekerjaan, malah jika merasa kehormatan profesinya dilecehkan, dia berani memutuskan hubungan pekerjaannya. Employee bermental kuli. Profesional mengejar kesempurnaan dan tentu saja kesuksesan. Kita di sini bukan sebagai employee, melainkan sebagai profesional yang bekerja demi dignity diri kita.”
Mata Pak Santo berbinar-binar dan berbisik “Ini yang saya cari Le..!!”
Oom Ale menoleh sambil memasang wajah tidak mengerti.
“Supaya tidak terus-menerus terperangkap dalam strategy red ocean, kita harus bisa berpindah status dari pegawai menjadi profesional..!! Being professional is blue ocean strategy. Kita harus punya kompetensi mumpuni. Ibarat produk, kita adalah produk berkualitas tinggi yang bisa memenuhi kebutuhan klien. Ini yang membedakan kita dari kebanyakan pegawai. Profesional tidak terjun di pasar tenaga kerja yang padat, tapi di pasar keahlian yang terspesialisasi. Profesional tidak bersaing sampai harus berdarah-darah. Semakin khusus dan tinggi keahlian kita, semakin biru-lah lautan kita. Yes, I am a profesional!” Pak Santo sudah bisa tersenyum lagi.
Oom Ale juga tersenyum karena merasa juga mendapatkan pencerahan. Selama training pun pikiran Oom Ale menerawang jauh. “Memang sebagai orang bayaran kita harus bersikap profesional. Tapi…” tiba-tiba Oom Ale tercenung. Dalam hati Oom Ale berangan-angan menjadi seorang wirausahawan.
Salam hangat,
Oom Ale





