debu tebu Toelangan

Yes, I agree, it’s not Haiku. But, do you mind if it is Haiku?

Celoteh-celoteh Oom Ale

It’s about life, love and laugh of Oom Ale and family + friends.

Buku

Sometime I only read the back-cover or TOC, and that should be okay.

Musik

Some of the musics I listen. Please do not ask for free mp3.

Celoteh-celoteh Toelangan

A small thought from small place, Toelangan.

Home » Celoteh-celoteh Oom Ale

Who’s Got The Monkey?

Submitted by leojuliawan on 16 June 2010 – 12:00 amOne Comment

Dengan tergopoh-gopoh Pak Koko, staf bagian umum, menemui Pak Ton, manajer personalia. Sebelumnya di telpon Pak Ton sedikit naik pitam. Gara-garanya Pak Koko belum juga mengirim satu amplop dokumen ke kantor pusat. Seharusnya dokumen sudah dikirim kemarin dengan pos kilat supaya bisa sampai di Jakarta besok pagi

Ada beberapa alasan Pak Koko. Tapi, semakin banyak alasan, semakin mengepul emosi Pak Ton. Pantas kalau Pak Ton berang. Dokumen ini super duper penting. Harus ditanda-tangani oleh Pak Presdir kemudian diserahkan ke salah satu biro di kementerian keuangan. Besok adalah deadlinenya. Tidak boleh telat, atau Pak Ton akan kena sikat habis tanpa ampun.

“Saya sudah kontak kurir langganan kita, BHL. Mereka tidak bisa menjamin kiriman kita sampai di Jakarta besok pagi,” kata Pak Koko memelas.

“Lho mereka kan punya ‘one night service’? Mestinya kalau dikirim siang ini, besok sudah bisa sampai dong?” kata Pak Ton mulai meradang. “Gimana sih BHL ini. Kita ini khan customer mereka. Masya’ nggak bisa dibantu.”

“Lha.. ya itu pak. Saya sudah bilang berkali-kali, bahkan bicara sama manajer cabang BHL, tapi tetap tidak bisa. Mungkin karena saya staf biasa, manajer BHL tidak menganggap permintaan saya serius. Mungkin kalau Pak Ton yang bicara mereka takut dan mau membantu,” kata Pak Koko.

“Yani..!! Telpon BHL..!!” seru Pak Ton ke Royani, sekretaris Pak Ton.

Hanya dalam hitungan detik, Pak Ton sudah terhubung dengan staf BHL. Staf BHL menjelaskan mereka memang punya layanan ‘one night service’, tapi dengan syarat waktu penyerahan sebelum jam 12 siang. Ini sudah jam dua siang. “Mohon maaf, sudah melewati waktu penyerahan,” kata staf BHL. Pak Ton minta bicara dengan manajer cabang disertai ancaman tidak akan pakai jasa BHL lagi kalau BHL tidak bisa membantu. Sambil minta beribu-ribu maaf sang manajer cabang BHL tidak bisa memenuhi karena armada mereka sudah berangkat. Pak Ton menutup telpon begitu saja.

Kata Pak Koko, “Mungkin Pak Ton tahu perusahaan kurir lain yang punya layanan ‘one night service’? Sepertinya dulu Pak Ton punya kenalan yang jadi bos di perusahaan kurir?”

Pak Ton berpikir keras.

“Bapak ingat tidak, sekitar lima tahun lalu kita juga pernah mengalami hal sama. Waktu itu kita menggunakan jasa kurir yang pimpinannya teman bapak waktu kuliah dulu,” Pak Koko berusaha membuka simpul-simpul ingatan Pak Ton.

“Ah betul..!” seru Pak Ton. “Tapi saya kok lupa namanya ya..? Hm…? Yani, apa kamu ingat perusahaan kurir yang pimpinannya teman kuliah saya. Dia pernah datang ke sini beberapa tahun lalu.”

Royani mengerutkan kening. Memicingkan mata. Menerawang jauh. Akhirnya menggelengkan kepala. Pak Ton menggaruk-garuk kepala. Pak Koko ikut-ikutan pasang muka serius. Padahal dia juga tidak tahu. “Kenapa memori kita hilang saat dibutuhkan ya..?” teriak Pak Ton kesal.

“Memangnya ada apa sih pak?” tanya Oom Ale yang kebetulan lewat di depan ruangan kerja Pak Ton. Maksudnya mau mengambil air minum, tapi pemandangan tiga wajah tegang di ruangan Pak Ton menarik perhatian.

“Pak Ale tahu perusahaan kurir yang punya ‘one night service’ selain BHL. Saya dulu pernah pakai mereka. Pimpinannya teman saya kuliah,” kata Pak Ton.

“Wah.. kalau yang pimpinannya teman bapak saya nggak tahu deh. Tapi setahu saya yang punya ‘one night service’ selain BHL yaa.. hmm.. Cayaka,” jawab Oom Ale. “Kebetulan adik saya agen Cayaka.”

“Ah.. betul.. CAYAKA..!!!” seru Pak Ton gembira. “Thanks Pak Ale. Yani..!!! Telpon Cayaka..!!!”

Singkat kata, Cayaka memang mempunyai layanan ‘one night service’. Mereka memberi batas waktu sampai jam enam sore di kantor Surabaya. Pak Koko bersedia untuk berangkat sendiri ke kantor Cayaka untuk menyerahkan dokumen. Cayaka akan kirim malam itu juga dan jamin dokumen sampai di kantor pusat sekitar jam sepuluh esok pagi. Hidup Cayaka..!!! Pak Ton lega. Pak Koko juga lega. Royani ikutan lega.

“Terima kasih Pak Ton,” kata Pak Koko sambil membungkuk-bungkuk. “Berkat bantuan Pak Ton, akhirnya dokumen ini bisa terkirim sesuai skedul.”

“Selesai sudah satu tugas penting,” kata Pak Ton senang.

Oom Ale tersenyum senang bisa membantu. Tiba-tiba Oom Ale teringat artikel berjudul “Who’s Got The Monkey?” karangan William Oncken dan Donald L. Wass yang konon adalah salah satu artikel Harvard Business Review terlaris sepanjang masa. Kalau mengacu artikel itu, hari ini Pak Ton ketiban monyet alias got the monkey karena mengerjakan sesuatu yang seharusnya dikerjakan oleh Pak Koko, bawahannya. Memang benar, Pak Ton adalah orang yang paling bertanggung jawab di departemen ini. Namun penyelesaian tugas pengiriman dokumen sesungguhnya ada pada Pak Koko. Khawatir gagal melaksanakan tugas, dengan cerdik dan disertai kalimat-kalimat manis Pak Koko melempar monyet ke pundak Pak Ton. Sedangkan Pak Ton yang tidak menyadari situasi mau saja mengambil alih masalah ini. Tujuan Pak Koko jelas, jika terjadi sesuatu yang buruk, ia bisa berkelit dengan dalih masalah ini sudah dilaporkan dan diambil alih oleh Pak Ton. Hihihi…

Atasan punya cara untuk melakukan pendelegasian tugas ke bawahannya. Tapi, bawahan yang lihai punya trik melempar kembali tugas-tugas itu ke atasannya. Pendelegasian tugas adalah salah satu cara untuk memanaje waktu. Sebaliknya trik “who’s got the monkey’ adalah pembunuh waktu yang efektif. Terkadang ini bukan soal apakah kita sudah melakukan empowering pada bawahan. Hal yang mungkin dilewati oleh William Oncken dan Donald L. Wass, ini adalah soal permainan politik menghindari diri dari masalah besar.

Semestinya Pak Ton tetap teguh mendorong agar Pak Koko-lah yang seharusnya menyelesaikan ini semua. Mungkin Pak Ton khawatir resiko gagalnya terlalu besar. Namun ada resiko lain menunggu: Pak Koko menganggap jika Pak Ton bisa dikerjai hari ini, pasti bisa dikerjai di kemudian hari. Oleh karena itu, sebelum menyilakan Pak Koko pergi seharusnya Pak Ton mengkonfirmasi secara serius bahwa ini adalah tanggung jawab Pak Koko.

Ya sudah. Semua sudah berlalu. Bagaimana pun akhirnya Pak Ton bisa bernapas lega meski pundaknya dikerubuti monyet-monyet. Itu lebih bagus ketimbang kena semprot bos besar. Di balik pintu, Pak Koko juga senang. Meski harus berkendara berjam-jam ke Surabaya untuk menyerahkan dokumen di kantor Cayaka, tapi lumayan  bisa jalan-jalan dan mencicipi menu lontong kikil yang terkenal di dekat terminal Purabaya.

Salam hangat,
Oom Ale

One Comment »

  • Raka Kurnia says:

    Wah, ini model ulasan buku yang sangat menarik. Gaya penyampaian Oom Ale benar-benar menawan! Oh, tidak, tidak, saya tidak (baca: belum) terpikir hendak “melempar monyet” kepada atasan saya. He, he. Salam kenal, Oom Ale!

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.