debu tebu Toelangan

Yes, I agree, it’s not Haiku. But, do you mind if it is Haiku?

Celoteh-celoteh Oom Ale

It’s about life, love and laugh of Oom Ale and family + friends.

Buku

Sometime I only read the back-cover or TOC, and that should be okay.

Musik

Some of the musics I listen. Please do not ask for free mp3.

Celoteh-celoteh Toelangan

A small thought from small place, Toelangan.

Home » Celoteh-celoteh Toelangan

Mie Instan, Telor, Ayam

Submitted by leojuliawan on 10 July 2010 – 12:00 am2 Comments

Setelah menanyakan tujuan saya, yang kemudian saya jawab “Mall”, supir taxi yang membawa saya dari sebuah hotel di bilangan Slipi, Jakarta, membuka percakapan, “Kenapa mata bapak minus?” Saya sedikit heran dengan pertanyaan ini. Saya lirik supir taxi itu tidak sedang mengenakan kacamata. Saya berusaha berpikir positif, mungkin dia baru saja didiagnosa pegawai toko optik dan disarankan menggunakan kacamata. Mungkin dia perlu second opinion untuk meyakinkan dirinya memang betul-betul perlu kacamata.

Saya punya jawaban teoritis. Tapi karena saya sedang berhemat bicara, saya jawab saja karena terlalu lama bekerja di depan komputer dan suka baca sambil tiduran. Jawaban standar memang. Saya sendiri tidak tahu apa ada hubungan antara terlalu lama menyetir dengan mata minus. Saya berharap ini akan memuaskan dia. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dari kaca spion dalam, supir taxi menatap saya cukup tajam, “Bukan..!!” kata supir taxi itu keras juga. “Mata minus bukan karena terlalu banyak nonton tv, main komputer atau baca sambil tiduran. Itu khan kata orang dulu. Mata minus karena bapak terlalu banyak makan mie instan, telor dan ayam.”

Waow… jawaban apa pula ini..?! Belum sempat saya mencerna, supir taxi itu sudah menyerbu. “Mie instan, telor dan daging ayam ternak tidak baik untuk kesehatan pak. Menyebabkan banyak penyakit. Seperti sakit jantung, gagal ginjal, kanker, darah tinggi, stroke dan macam-macam. Telor dan daging ayam kampung boleh dimakan. Tapi telor dan daging ayam boiler… bahaya… bahaya!”

Saya mulai gerah dengan pembicaraan seperti ini. Menyudutkan mata minus saya lalu dengan sok tahunya mengatakan saya terlalu banyak makan mie instan, telor dan ayam sungguh tidak sopan. Selain itu, nada bicaranya terlalu keras. Tatapan matanya dari kaca spion pun menganggu kenyamanan saya. Sesaat saya ingin membalas dengan suara keras pula bahwa jawabannya konyol dan tolol. Tapi tiba-tiba saya teringat ajaran semacam “ilmu ginkang” dari seorang suhu meditasi Vipassana. Saya menyadari kemarahan saya. Lalu saya coba tersenyum. Kecut tentunya. “Ooo gitu ya pak?”

Sahutan saya membuka front lebih lebar lagi. Supir taxi itu bertambah semangat, “Saya sedih pak. Sedih sekali. Bangsa kita semakin hari semakin bodoh dan penyakitan. Coba lihat, rumah sakit dimana-mana penuh. Padahal jaman dulu, rumah sakit kosong karena nenek moyang kita selalu sehat wal afiat. Bapak tahu? Sejak tahun 70-an bangsa kita mulai mengenal ayam petelur dan ayam boiler dari bangsa xxx (Maaf.. saya mensensor nama bangsa asing itu demi keharmonisan hubungan bilateral kedua negara). Sejak saat itu kita jadi bangsa yang sakit-sakitan. Dulu badan nenek moyang kita kuat-kuat. Sekarang, kena angin sedikit saja kita flu. Persis ayam boiler, gampang mati kalau kena angin. Dulu ingatan nenek moyang kita juga kuat, seperti ayam kampung yang selalu ingat kandangnya. Orang sekarang gampang lupa. Itu karena kita terlalu banyak makan telur dan ayam boiler. Bapak tahu? Telur dan daging ayam boiler itu penuh suntikan obat. Itu semua sumber penyakit. Bangsa kita terlalu banyak makan penyakit. Itu yang membuat saya sedih.”

Saya tidak tahu mau bicara apa. Saya masih sibuk dengan “jurus” meditasi mengenal diri untuk menjaga kuda-kuda emosi saya. Saya biarkan saja dia berjaya dengan ocehannya. Sambil matanya terus menatap melalui kaca spion, “Ayam boiler bulunya putih pak. Orang yang terlalu banyak makan daging ayam boiler rambutnya gampang ubanan.” Pyuuh..!! Saya semakin kecut. Uban di kepala saya jauh lebih lebat meski umur saya pasti lebih muda darinya. Aah, sialan juga supir taxi ini. Di remang-remang petang itu, matanya seolah bersinar menang. 2 : 0..!

“Kita ini dibodohi bangsa luar pak,” pidatonya mulai memanas. “Mie instan, telor, dan ayam boiler itu produk bangsa asing. Mereka tahu makanan ini tidak baik buat kesehatan. Tapi mereka cekoki bangsa kita agar kita penyakitan terus. Saya sedih melihat bangsa ini pak. Sedih sekali. Saya pernah bicara dengan dokter, profesor, insinyur yang kebetulan naik taxi saya. Mereka membenarkan omongan saya. Mie instan, telor dan ayam boiler banyak mengandung zat-zat kimia yang bahaya bagi tubuh. Mereka banyak makan mie instan, telor dan ayam. Mereka sendiri mengaku kena stroke, darah tinggi, jantung dan ginjal. Setelah mendengar omongan saya, mereka sudah tidak mau lagi makan mie instan, telor dan ayam boiler. Pernah ada mahasiswa yang menyarankan saya membuat selebaran lalu ditempel dimana-mana. Saya tidak mau. Saya lebih suka berbicara pada penumpang taxi saya.”

Dalam hati saya punya banyak argumen. Tapi emosi dan pikiran saya sudah mulai tenang. Biarlah supir taxi ini menemukan kegairahanya. “Memangnya bapak mulai kapan tidak makan mie instan, telor, dan ayam?” tanya saya.

“Mulai tahun 97..!!” jawabnya mantab. “Sejak itu badan saya selalu sehat pak. Hampir tidak pernah sakit. Kalau sakit cuma ringan-ringan saja. Tidak sampai serius. Saya juga kuat bekerja. Berjam-jam nyetir taxi tidak masalah buat saya. Teman-teman sesama supir taxi sering mengira saya suka minum minuman energi. Saya tidak pernah minum minuman macam itu. Itu juga bahaya.” Badan supir taxi ini memang terlihat kuat. Tidak gemuk. Tidak kurus. Sedang dan atos.

“Oh ya..!” lanjut supir taxi itu, seolah ada yang ketinggalan. “Saya terlambat kawin pak. Saya kawin umur 30-an. Lebih dari delapan tahun saya tidak punya anak. Lalu saya berhenti makan mie instan, telor, dan ayam. Eeeh, setahun kemudian saya punya anak.” Ternyata manfaat berpantang makan mie instan, telor dan ayam banyak juga. “Coba ikuti nasehat saya ini pak,” kali ini supir taxi ini mulai berani menasehati saya. “Omongan saya memang tidak ada di buku-buku kedokteran. Tapi saya yakin benar. Mulai sekarang jangan makan mie instan, telor, dan ayam boiler. Bahaya!”

Taxi mulai memasuki pelataran Mall. Saya mengintip tag pengenal taxi. Cuaca agak gelap. Petang itu mendung. Saya tidak bisa membaca cukup jelas nama supir taxi yang tertulis di tag. Kalau tidak salah namanya, Deni Safrin. Entah dia orang mana. Seolah berburu dengan waktu, dia meneruskan bicaranya sebelum taxi benar-benar berhenti. “Bapak tahu, bangsa kita mudah marah. Senggolan di jalan sedikit saja sudah mau berantem. Demo dimana-mana selalu rusuh. Bapak tahu apa sebabnya?” Saya menduga jawabannya pasti, “Mie instan, telor, ayam.”

Ternyata tidak. “Karena hati kita tidak sabar pak. Inginnya semua serba cepat. Itu karena makanan kita dibuat serba cepat. Mie instan. Telor ayam ternak. Daging ayam boiler. Semuanya hasil produksi serba cepat. Makanan kita tidak baik. Itu yang membuat hati kita juga tidak baik. Mudah emosi. Kurang tabah. Kurang sabar.”

Saya tergeleng-geleng lalu mengangguk-angguk sendiri. Belum pernah saya diceramahi oleh supir taxi seajaib ini. Saya tidak tahu apakah dia benar atau salah. Tapi saya cukup percaya, kejadian tadi tidak serta-merta kebetulan. Jangan-jangan ada sebab rahasia yang mempertemukan saya dengan supir taxi itu. Yang jelas selama dua puluh menit perjalanan tadi saya berkutat keras dengan “ilmu ginkang”. Itu bukan hal yang mudah. Saya juga tidak tahu apakah saya lulus dalam praktek meditasi mengenal diri dalam taxi. Mungkin ini tidak terlalu penting. Tapi saya tahu saya tidak membantah ucapannya. Saya tidak menertawakan dia. Saya tidak mengejek teorinya. Malah berterima kasih dan memberi tambahan tips ongkos taxi. ***

2 Comments »

  • Anang says:

    Bukannya pukulan telak 2-0 karena mie instan, telor dan ayam telah membuat kita sadar diri ternyata dari ucapan seorang supir taxipun ada pelajaran berharga. Mudah2an tidak ada benarnya hubungan rambut ubanan dengan bulu ayam boiler ….hehshehs

  • Rima says:

    Setelah itu, apa Bapak berhenti mengonsumsi mie instan, ayam broiler, dan telur. Yang penting kita patut syukuri, ada juga rakyat Indonesia yang peduli dengan kesehatan dan mengerti bahwa segala sesuatu yang instan itu tidak baik.
    Saya suka dengan artikel bapak, terutama kesempatan belajar meditasi dalam taxi.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.