Home » Starring

Starring

Berikut adalah para pemeran blog ini. Nggak ada peran antagonis maupun protagonis. Nggak ada happy ending. Nggak ada inspirational moment. Nggak ada emotional love story. Bukan life journal, apalagi biografi. Just as it is. Silakan menafsirkan sendiri-sendiri. Mohon maaf, semua karakter diperankan tanpa melalui proses casting maupun audisi.

Oom Ale: Lahir di Jakarta, tahun 196x, shio monyet, bintang Leo. Tinggi badan: 170an. Berat badan sekitar 85 kiloan. Kepala penuh uban, diduga karena sejak SD terlalu banyak pakai minyak rambut merk Tancho. “Uban adalah kembang jambu penghias kepala,” begitu kata Oom Ale tentang ubannya. Agak pelat, alias cedal, alias nggak bisa bilang “errrr”. Kulit kuning, mata sipit. Maklum, papa Cina, mama Sunda.

Sempat terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri, fakultas ekonomi, jurusan akuntansi selama delapan tahun. Pernah ikut ujian, lulus dan wisuda sarjana ekonomi, tetapi nggak punya ijazah. “Malas ngurus ijazah,” jawab Oom Ale. Tapi Oom Ale nggak malas cari kerja. Sejak masih kuliah, sudah cari duit jadi pengajar di sebuah bimbingan tes, lalu jadi staf akunting di pabrik pengalengan ikan, lalu pindah ke pabrik sandal, dan sekarang menjadi manajer keuangan di pabrik jamu.

Tante Nik
: istri tercinta Oom Ale. Asli Jawa, anak petani, hitam manis, suka bergaul, tapi grogi kalau disuruh bicara di depan orang banyak. Biarpun lulusan sarjana ekonomi, ijasahnya nggak pernah dipakai buat nyari kerjaan. Tetapi itu bukan berarti Tante Nik nggak punya karir. Justru sehari-hari Tante Nik sibuk ngurusi usaha warung pangsit mie-nya, mulai dari ngeracik bumbu, bikin bakso, sampai meriksa buku kas. Ya, diam-diam begini, Tante Nik adalah seorang enterpreneur.

Oom Ale dan Tante Nik dikaruniai tiga orang anak, perempuan semua: Dita, Nana, Lila. Keluarga Oom Ale tinggal di sebuah kecamatan kecil, di sisi timur utara pulau Jawa, yang dikenal sebagai penghasil tebu dan gula. Nama kecamatan itu dipakai di sebuah scene di novel “Anak Semua Bangsa”-nya Pramoedya Ananta Toer.

Some Timeless Friends

Tentu saja Oom Ale punya teman. Kalau dibilang banyak ya banyak. Tetapi, kalau mau dikata sedikit, ya sedikit. Kita bisa mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya, tapi timeless friends hanya beberapa saja.

Pakde Adi
: teman karib sejak SMP, penikmat musik rock metal. Nggak pernah lelah ngurusi rekan-rekan senasib di organisasi penyandang cacat. Hidup Pakde Adi…!

Wak Brodin & Jeng May
: Wak Brodin ini pembawaannya kalem tapi tegas, berbanding terbalik dengan istri beliyaw, Jeng May, yang suka guyon dan ketawa terbahak-bahak. Keluarga Wak Brodin berteman baik dengan keluarga Oom Ale. Jeng May berkongsi dengan Tante Nik membuka usaha warung pangsit mie.

Bli Dhegog: teman kuliah Oom Ale, pernah satu kelas, satu kost, satu kantor. Asli orang Bali. Kerja di pabrik sandal, sebagai manajer keuangan.

Bro Gatoet: teman kuliah Oom Ale. Orangnya ramah dan suka nraktir makan-makan. Sejak lulus kuliah sampai sekarang kerja di pabrik kecap. Ya, inilah contoh pegawai paling loyal se dunia. Jabatan terakhir: manajer keuangan.

A View VIP Colleagues

Kenapa teman-teman sekerja disebut colleagues bukan friends? Mungkin di suatu waktu mereka benar-benar jadi teman (meski hanya timely friend), sedangkan di lain waktu mereka adalah competitor dalam perebutan secuil kue karier. Konon agar profesional, kita tidak boleh ngefriend dengan colleague. Berikut beberapa nama VIP yang menjadi friend eh.. salah.. colleagues di tempat kerja Oom Ale.

Pak Bos: sesuai namanya, beliyaw ini adalah atasan Oom Ale di pabrik. Orangnya pintar. Ya pasti pintar dooong, kalau nggak, mana bisa jadi direktur pabrik…! Demi alasan etis, di blog ini kita nggak akan menyebut nama beliyaw. Apa ada sebutan yang lebih keren selain “Pak Bos”?

Pak Presdir alias Big Bos: presiden direktur perusahaan tempat Oom Ale bekerja. Ngantor di Jakarta. Big Bos adalah atasannya Pak Bos. Seperti pepatah, di atas langit masih ada langit. Tentu saja masih ada bos yang lebih big di atas Big Bos. Begitu seterusnya, sampai melewati langit.

Pak Ton: manajer personalia, orangnya cerdik, jago negosiasi, murah senyum, kepercayaan Pak Bos. Mungkin, kalau Pak Bos pensiun, beliyawlah yang diangkat jadi direktur pabrik. Karenanya, Oom Ale harus berbaik-baik sama beliyaw.

Bu Ann: direktur keuangan, atasan Oom Ale di bagian keuangan. Orangnya baik, lembut. Tapi jangan terlena, beliyaw ini  sangat teliti, hati-hati dan bisa galak juga.

Pak Syam: teman kantor yang paling asyik diajak guyon. Umurnya sih sekitar 25 tahun di atas Oom Ale, tapi kalau bercanda suka lupa umur.

Special Appearances

Tokoh-tokoh berikut tampil secara khusus, istilah kerennya: special appearances. Mereka hanya tampil dalam scene-scene penting.

Mbah Ud: pensiunan pegawai negeri, ex mantri puskesmas kecamatan. Waktu pensiunnya banyak dihabiskan untuk ngajar meditasi. Oom Ale menganggap Mbah Ud sebagai guru spiritual, padahal sekalipun Oom Ale nggak pernah meditasi bareng Mbah Ud. Itu kenapa Mbah Ud nggak pernah menganggap Oom Ale sebagai muridnya.